Redenominasi Tidak Sama Dengan Sanering

Pagi ini banyak yang menanyakan soal rencana pemerintah yang akan melakukan Redenominasi mata uang rupiah. Apa itu redenominasi dan bagaimana dampaknya jika itu dilakukan? Beberapa merasa khawatir dengan simpanan yang dimiliki dan bertanya sebaiknya menyimpan uang/aset dalam bentuk apa? Ada juga yang ketakukan dan membandingkan dengan  jaman orde lama dulu dimana nilai uang rupiah dari seribu menjadi sepuluh rupiah (Sanering)…

Saya akan coba jelaskan secara sederhana agar banyak masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Redenominasi itu berbeda dengan Sanering, redenominasi adalah penyerderhanaan mata uang, sedangkan sanering adalah pemotongan nilai uang. Misalnya pemerintah melakukan redenominasi dari Rp 10000 menjadi Rp 1 rupiah, maka otomatis semua barang yang harganya Rp 10000 akan menjad Rp 1, jadi masyarakat tidak dirugikan sedikitpun. Sementara pada sanering uang Rp 10000 menjadi Rp 1, sementara harga barang yang tadinya Rp 10000 akan tetap Rp 10000. Jadi yang memiliki uang dirugikan, karena nilainya menjadi susut. Aset dalam bentuk uang setiap orang akan berkurang.

Sebetulnya isu redenominasi ini sudah bergulir sejak tahun 2010, dan 2013 Rancangan Undang-Undang mengenai ini sudah masuk ke DPR. Namun karena pelaksanaannya menurut Bank Indonesia harus dalam keadaan ekonomi yang stabil dengan tingkat pertumbuhan yang baik dan inflasi yang terjaga, maka baru saat ini pemerintah dan BI merasa yakin itu dapat dilakukan.

Alasan utama dilakukannya redenominasi adalah penyederhanaan digit mata uang, kenapa harus dilakukan? Karena dengan digit yang lebih sederhana akan meningkatkan reputasi, efisiensi dan juga akuntabilitas ekonomi Indonesia. Bayangkan saja, saat ini sudah tidak ada lagi barang yang bisa dibeli dengan uang Rp 1! Tahu goreng saja sudah Rp 1000 per buah, parkir Rp 1000-2000, jarang bahkan mungkin tidak ada lagi barang yang dijual dengan nilai Rp 1 – Rp 100.

Tujuan utama Redenominasi adalah menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam ber-transaksi.

Coba anda perhatikan juga di beberapa tempat makan atau toko, saat inipun sudah banyak yang mencantumkan harga dengan menghilangkan tiga angka nol di belakang. Artinya, masyarakatpun sudah merasa bahwa angka pada mata uang kita sudah kurang effisien alias terlalu banyak angka nol-nya.

Jadi, redenominasi tidak perlu di khawatirkan, pemerintah dan Bank Indonesia akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan terukur. Saya yakin dampaknya tidak akan signifikan tapi manfaatnya akan sangat terasa sekali bagi masyarakat. Biasanya pada tahapan pelaksanaan akan di terbitkan mata uang baru dengan nilai yang baru, jadi nanti akan ada dua harga pada setiap barang yang dijual. Menurut BI, masa transisinya akan berlangsung selama 7-8 tahun. Sampai saat ini belum ada informasi yang pasti akan berapa angka NOL yang dihilangkan, kalau saya pribadi sih berharap 4, minimal 3. Jadi nanti $1 jadi Rp 1.3 rupiah…

Contoh negara yang sukses menerapkan redenominasi adalah Turki. Selain Turki, negara yang berhasil meredenominasi mata uangnya adalah Brazil, Rumania, Polandia, dan Ukraina. Ada juga negara yang gagal melakukan redenominasi, seperti Ghana, Korut, Zimbawe, kegagalan mereka karena melakukan tidak pada kondisi ekonomi yang tepat.

Baca juga: EMAS Alat Ukur Biaya Di Masa Yang Akan Datang

Salah satu dampak negatif bagi masyarakat adalah penurunan status, mereka yang tadinya berjuluk Milyader akan turun pangkat jadi Jutawan ha ha ha ha….

2 thoughts on “Redenominasi Tidak Sama Dengan Sanering

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.