Ulasan Tentang LUSH

LUSH – Lebih Mirip Toko Kue Daripada Toko Kosmetik

Teringat Drew Eric Whitman pengarang buku best seller Cashvertising, disalah satu seminar pernah mengatakan: Buatlah pelanggan/calon pelanggan sudah membeli dalam pikiran mereka sebelum mereka benar-benar membelinya. Kebetulan anak saya tiga-tiganya perempuan yang sedang beranjak remaja, awalnya saya heran, begitu tergila-gilanya mereka dengan produk ini. Ketika mereka masuk salah satu outlet LUSH, yang membatasi mereka membeli hanyalah uang yang mereka miliki. Mereka sudah tahu apa yang akan mereka beli, ya… mereka sudah membeli dalam pikirannya jauh sebelum datang ke outlet.

Unik mengamati cara LUSH memposisikan brand dan produknya, dengan tag-line FRESH HOME MADE COSMETICS, semua produk skin-care LUSH terbuat dari bahan alami, homemade dan less-chemical, hal ini dikomunikasikan dengan sangat baik melalui berbagai kanal marketing salah satunya social media, dengan target sasaran generasi millenial, muda, ambisius dan punya duit. Coba search di Youtube, begitu banyak video baik dari official LUSH maupun para Vlogger yang bercerita tentang LUSH dan produk-produknya. Mulai dari kunjungan pabrik, sampai bagaimana cara mereka mengolah dan membuat produk, semua dikemas dengan bahasa yang komunikatif, sederhana dan kreatif. Kalau melihat video bagaimana sebuah produk dibuat, dari mulai peralatan sampai bahan baku dan cara mengolahnya, lebih mirip bikin kue dari pada bikin sabun hahahahaha….

Buatlah pelanggan/calon pelanggan sudah membeli dalam pikirannya sebelum mereka benar-benar membelinya

LUSH juga memanfaatkan Facebook secara maksimum, jika anda mengunjungi salah satu outlet-nya lalu posting status dengan melakukan tag atau location store mereka, maka official Facebook LUSH akan menghubungi anda untuk meminta review.

Terinspirasi The Body Shop

LUSH awalnya didirikan di Inggris oleh dua orang bersahabat Liz Weir dan Mark Constantine, keduanya membuka salon kecantikan bernama “Herbal Hair and Beauty Clinic”. Mereka terinspirasi oleh Anita Roddick pendiri The Body Shop, merasa punya kesamaan visi, kedua orang bersahabat ini kemudian menawarkan diri menjadi salah satu supplier The Body Shop. Berjalan waktu, ternyata mereka tidak hanya menjadi Supplier, melainkan juga meracik berbagai formula kosmetik yang menjadi produk The Body Shop. Dari supplier menjadi partner bisnis. Namun hubungan bisnis ini tidak berjalan mulus, tahun 1995 Liz Weir dan Mark memutuskan untuk mengahiri kerjasama bisnis dengan Anita Roddick dan membuat brand sendiri yang diberi nama LUSH. Makanya jangan heran kalau anda penggemar lama produk Body Shop, ada perubahan taste pada produk-produk mereka setelah tahun 2000 an, karena hasil racikan Liz dan Mark sangat mempengaruhi produk Body Shop saat itu.

Sebelum bernama LUSH, mereka menamai produknya dengan nama “Cosmetic House”. Tapi karena merasa kurang pas, ahirnya mereka membuat sayembara kepada para pelanggannya untuk memberi nama pada perusahaan mereka. Salah satu konsumen mereka dari Glasgow – Scotland bernama Elizabeth Bennet memenangkan sayembara ini dengan nama yang dikenal sampai saat ini, yakni: LUSH.

LUSH konon berarti menjadi segar, hijau dan wanita mabuk. Tiga kata kunci ini menjadi tag-line untuk menggambarkan seperti apa orang-orang bekerja di perusahaan ini dan apa yang mereka lakukan.

Homemade dan Natural

Buah jeruk, lemon, sari buah, sayuran dan bahan-bahan segar lainnya diolah menggunakan peralatan sederhana untuk menjadi berbagai produk kecantikan yang alami seperti sabun, shampo, masker dsb. Sabun pertama LUSH yakni Banana Moon yang berbentuk silinder dibuat dengan cetakan bekas pipa, sementara Red Roster menggunakan tempat kotoran kucing dan Bohemian dibuat menggunakan pot kayu yang biasa digantung di kaca.

LUSH menyebut tempat pengolahan produk mereka sebagai Kitchen, menggunakan alat-alat memasak seperti mixer kue, blander, dsb untuk mengolah produk mereka. Anda bisa melihat apa yang mereka masak melalui akun resmi LUSH Kitchen.

Outlet LUSH Lebih Mirip Toko Kue

Kalau anda berbisnis, terlepas dari isi dompet yang mereka miliki, ada dua tipe pelanggan: Rasional Buyer & Emosional Buyer. Yang pertama belanjanya ngitung dan kepalanya berisi kalkulator, tipe ini hanya beli yang mereka butuhkan; cukup dan perlu itu prinsip mereka. Jangan heran kalau pelanggan tipe ini banyak nawar. Yang kedua belanjanya pake mata dan rasa, nggak pake mikir, tipe ini bicara suka dan pengen. Jangan heran kadang tipe seperti ini kalau beli belum tentu dipakai langsung, dan itu sebabnya juga tipe seperti ini kalau beli jarang nawar, harga nomor dua, yang mereka utamakan adalah kepuasan dan kualitas.

Salah satu outlet LUSH terbesar adalah yang berada di Oxford Street – London. Sama seperti mengunjungi outlet LUSH lainnya dimanapun, anda akan lebih berasa masuk toko kue ketimbang toko kosmetik.

Mereka sadar betul bagaimana memperlakukan “Emosional Buyer” yang menjadi sebagian besar dari pelanggannya. Setelah menanamkan image Homemade dan Natural di sosial media pada alam bawah sadar pelanggannya, kemudian ini berlanjut saat anda mengunjungi outlet-outlet-nya. Sebuah “Funneling” yang sempurna kalau dalam dunia Affiliate Marketing.

Baca juga: Hal Penting Yang TIDAK BOLEH Anda Lakukan Saat Traveling

Mereka pandai sekali mengemas produk untuk bisa dinikmati “mata” dan rasa (penciuman). Kayu menjadi ornamen utama untuk memajang produk sehingga terkesan sangat natural dan alami, sabun dipajang seperti tumpukan Keju atau Roti, yang kalau beli harga ditentukan berdasarkan timbangan. Bath Bomb ditata seperti kue, buah atau butter cream, bahkan ada yang seperti kue nastar. Aroma buah-buahan tercium sangat segar, setiap pembelian produk dibungkus pake kertas pembungkus makanan atau greaseproof paper, sehingga aromanya tetap tercium. Kalau saya datang ke sini bukannya pengen mandi tapi jadi laper hahahahahaha….

Cara LUSH Mengemas Produk

Cara LUSH Mengemas Produk

Di depan outlet, selalu ada pelayan yang ramah dan dengan attraktif melakukan demo produk, mereka tidak segan mengajak para calon pelanggan yang masih ragu untuk mencoba produk yang ada. Ya… grab new customer! Entah berapa puluh produk mereka buang untuk demo setiap hari, tapi efeknya bener-bener dahsyat. Sebuah funneling yang sempurna…

Paling bete emang kalau dah anak-anak ngajak ke sini, begitu masuk outlet langsung pada ngilang entah kemana seolah-olah lupa kalau datang itu ama bapaknya, saya kalau dah bosen paling nongkrong aja depan toko, soalnya nanti pasti ada anak yang datang nyamperin ngajak masuk ke dalam, saat akan bayar hahahahahaha…..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.